Articles

Dilarang Membuang Iman Sembarangan!

In Dari meja gembala on October 17, 2008 by kalamkudustimika

Bacaan Alkitab >> Ibrani 10: 35-39

Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya (ayat 35,

Tanda peringatan “Dilarang membuang sampah sembarangan!” sudah barang tentu sering dijumpai terpampang di tempat-tempat public. Tanda ini dipasang oleh Dinas Tata Kota karena mereka memahami bahwa banyak orang membuang sampah begitu saja di mana saja hanya karena malas berkorban mengeluarkan ekstra tenaga untuk berjalan ke tong sampah. Di beberapa negara, orang yang membuang sampah sembarangan akan dikenai sanksi berupa membayar denda uang.
Hari ini di depan pembaca terpampang peringatan “Dilarang membuang iman sembarangan!” Peringatan ini bukan dikeluarkan oleh Dinas Tata Kota, melainkan oleh Allah melalui firman-Nya. Dan bagi mereka yang membuang (melepas, apoballō) imannya, maka dia akan dikenakan sanksi, yaitu tidak akan mendapat berkat dari Allah (upah yang menanti).
Bagi Allah, menjaga (memegang teguh) iman kepercayaan adalah perkara yang sangat penting. Ia senang dengan orang yang menaruh harap/ mempercayakan dirinya seutuhnya kepada Kristus, tanpa meragukan sedikitpun kesanggupan, kemahakuasaan, dan kepedulian-Nya (ayat 38).
Allah tahu bahwa tidak mudah bagi anak-anak-Nya, yang nota bene masih hidup dalam daging, untuk selalu beriman dan percaya penuh 100% kepada-Nya. Itu sebab-Nya Allah memberikan salah satu rahasia kunci menjaga iman, yaitu mau menunjukkan ketekunan (hupomonē, diterjemahkan: sabar menanggung derita oleh karena nama Kristus). Ketekunan atau kesabaran ini sesungguhnya merupakan bukti kasih dan ketaatan seseorang kepada Allah (1Kor. 13: 7, Ef. 4: 2). Orang yang percaya kepada Tuhan harus mau berkorban mengeluarkan ekstra tenaga, tidak hanya untuk menahan diri/emosinya dikala ia diejek/difitnah, tetapi juga untuk tetap setia pada pelayanannya sekalipun ia dihimpit oleh berbagai pergumulan hidup, dan tetap konsisten mengisi diri dengan firman Allah sekalipun ia adalah orang super sibuk. Tidak ada ketekunan, Tidak ada berkat Tuhan.

Advertisements

Articles

Meninju Angin dan Terjatuh

In Dari meja gembala on October 5, 2008 by kalamkudustimika

1 Korintus 9: 1-27

Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. (ayat 27)

Pada masa lampau di Yunani, pertandingan tinggu merupakan salah satu pertandingan utama yang menarik banyak pentonton. Sebelum bertanding, seorang petinju akan mengadakan gerakan pemanasan dengan meninju-ninju angin (shadow boxing atau “beating the air”). Tujuannya tentu bukan untuk menjatuhkan angin, tetapi untuk melatih sang petinju menguasai tubuhnya sendiri. Bila ia tidak melatih diri menguasai keseimbangan dan kestabilan tubuhnya, maka ia akan dengan mudah terjatuh ketika habis melepaskan sebuah pukulan.

Demikian pula halnya dengan kehidupan seorang pelayan Tuhan. Rasul Paulus menyadari betul hal ini, sehingga ia mengatakan bahwa ia juga terus melatih menguasai dirinya, “keseimbangan” dan “kestabilan” tubuhnya. Sehingga ketika ia selesai memberitakan Injil ia sendiri tidak jatuh di dalam dosa yang membuatnya gagal memperoleh mahkota yang abadi (ayat 25).

Kejatuhan setelah melayani sering dialami oleh banyak orang yang mengaku sebagai pelayan Tuhan (= orang Kristen, yang mengaku sudah percaya kepada Kristus). Penyebabnya hanya karena tidak ada penguasaan diri, baik dalam hal materi, perkataan, kekudusan hidup, pekerjaan, keluarga, dslb. Bukankah penguasaan diri adalah tanda Roh Kudus bekerja di dalam diri seseorang (Galatian 6: 22, 23)?

Saya dan saudara adalah sama-sama pelayan Tuhan, karena setelah ditebus Kristus dan menerima pengampunan dosa, maka hidup saya dan saudara dibaktikan untuk Dia. Itu berarti apa yang disampaikan Paulus berlaku di dalam hidup saya dan saudara. Penguasaan diri dalam hal apa yang saat ini saya dan saudara gagal melakukannya? Kiranya Tuhan menolong kita semua. Amin.

Articles

Pupuk Untuk Pertumbuhan Iman

In Dari meja gembala on September 29, 2008 by kalamkudustimika

Bacaan Alkitab: 2 Timotius 3: 10-17

Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya . . . Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermamfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (ayat 12, 16)

Setiap tanaman memerlukan pupuk agar bertumbuh subur, kuat dan berbuah lebat. Tanpa pupuk, mustahil tanaman dapat tumbuh seperti yang diharapkan oleh sang petani. Boro-boro bisa berbuah lebat, berdiri tegak menghadapi terpaan angin sajapun belum tentu terjadi pada tanaman yang tidak diberi pupuk sebagaimana mestinya. Betapa pentingnya pupuk bagi pertumbuhan setiap tanaman!

Demikian pula dengan iman orang Kristen. Iman orang Kristen bagaikan tanaman yang memerlukan pupuk agar bertumbuh semakin kuat dan pada akhirnya membuat orang Kristen bisa berbuah lebat. Orang Kristen tidak perlu mencari-cari atau membuat sendiri pupuk agar imannya bertumbuh. Allah telah menyediakan 2 (dua) macam pupuk bagi orang Kristen agar imannya bertumbuh, yaitu: penganiayaan (baca: kondisi hidup yang sulit) dan firman Tuhan (baca: Alkitab).

Ya, lewat penganiayaan alias kondisi kehidupan yang sulit—yang tentu dikarenakan menjunjung nama Kristus, dan bukan akibat perbuatan dosa sendiri—dan lewat pembacaan, perenungan dan pengaplikasian firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, maka dengan sendiri iman orang Kristen akan bertumbuh. Itu janji Allah di dalam firman-Nya yang kita baca minggu ini.

Yang menjadi faktanya: seringkali ada orang Kristen ingin imannya diperteguh, namun seringkali pula ia mengeluh dan menolak setiap kondisi yang sulit yang ada di depannya. Tidak sedikit orang Kristen akhirnya memilih jalan pintas: apa sja dihalalkan agar tujuannya untuk menjadi sukses dan kaya cepat tercapai, sekalipun cara itu bertentangan dengan firman Tuhan. Seringkalipula ada orang Kristen yang ingin imannya diperteguh, namun seringkali pula ia melupakan dan mengabaikan jam-jam saat teduh-nya. Firman Allah begitu jauh dari dirinya.

Tidak ada cara lain agar iman orang Kristen dikuatkan, kecuali ia mau menjalani setiap kondisi sulit dalam hidupnya sesuai dengan aturan main firman Tuhan, dan membawa dirinya selalu bertemu Tuhan dan firman-Nya setiap hari. Atau, ternyata ia bukan sungguh-sungguh anak Tuhan! Amin.

Articles

Brenebon dan ‘Bekhorâh’

In Dari meja gembala on July 12, 2008 by kalamkudustimika

Bacaan Alkitab: Kejadian 25: 19 – 34; Ibrani 12: 1 – 17

Saya percaya bahwa hampir semua pembaca memahami satu dari dua kata di atas, yaitu Brenebon. Brenebon, menurut orang dari Sulawesi Utara dan Maluku, adalah sup kacang merah. Rasanya sangat nikmat. Ketika mengingat Brenebon, saya teringat dengan ‘Bekhorâh’. Jangan salah, ‘Bekhorâh’ bukan sejenis masakan, tetapi merupakan kata dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan sebagai hak kesulungan. Orang yang memilikinya akan menikmati berkat-berkat Allah yang kekal. Pada masa lampau di dunia Timur Tengah Kuno, menurut budaya yang berlaku, setiap anak yang lahir pertama secara otomatis akan mendapat ‘bekhorâh’, hak kesulungan. Dengan hak itu, maka sang anak mendapatkan beberapa hak istimewa, yaitu: berhak menjadi pemimpin dalam ibadah maupun keluarga, mendapatkan lebih banyak warisan dibanding saudara-sudaranya yang lain, dan—yang paling berharga—mendapatkan berkat-berkat Allah yang akan diberikan berdasarkan perjanjian Allah kepada Abraham.

Ingat ‘bekhorâh’, maka kita akan mengingat Esau. Di dalam Kejadian 25: 19-34, di sana dikisahkan mengenai Esau, yang oleh karena pertama lahir dalam keluarga Ishak, maka ia mendapat ‘bekhorâh. Sayangnya, Esau, yang sedang lapar dan haus, kemudian menjual hak-nya yang begitu berharga dan mempunyai nilai kekal hanya demi sepiring sup brenebon, yang tentu akan habis dalam sekejap. Kenikmatkan berkat-berkat rohani yang kekal yang diberikan oleh Allah ditukar dengan kenikmatan sesaat-nya Brenebon. Sungguh amat sayang!

Satu-satunya alasan mengapa Esau menjual hak-nya adalah karena ia karena memandang rendah atau meremehkan hak kesulungannya itu (Kej. 25: 34). Sikap memandang remeh hak yang diberikan Tuhan dipandang Alkitab sebagai dosa, dan orang Kristen tidak dibenarkan untuk melakukannya juga (Ibrani 12: 16, 17). Sesungguhnya setiap orang Kristen memiliki juga memiliki hak istimewa dari Allah. Hak istimewa itu adalah diangkat sebagai anak Allah, yang kemudian menjadi ahli waris kerajaan Allah dan berhak menerima janji-janji Allah dan memperoleh hidup yang kekal bersama Yesus di surga kelak (Gal. 4: 7; Yak. 2: 5; Rm. 8: 17; Yoh. 1: 12). Allah menginginkan setiap orang percaya menghargai dan menjunjung tinggi hak tersebut.

Bagaimana caranya? Alkitab mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus berlomba dengan tekun dalam perlombaan iman yang diwajibkan baginya, berusaha hidup damai, mengejar kekudusan hidup (Ibr. 12: 14), hidup hormat dan takut kepada Allah (Ibr. 12: 1, 14, 28).

Memang Tuhan mengijinkan setiap orang Kristen untuk mengalami “lapar” dan “haus” akan berbagai keinginan dan kebutuhan hidup di dalam dunia ini, sehingga ingin semuanya itu terpenuhi. Namun, jangan sampai saya dan saudara menjual iman yang begitu berharga yang telah dianugerahkan Kristus kepada kita demi kenikmatan sesaat di dunia ini. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan (Ibr. 12: 29). Ia tidak membiarkan diri-Nya dan anugerah-Nya dipermainkan. Amin.

Articles

In Dari meja gembala on June 24, 2008 by kalamkudustimika

Terbangunnya keluarga Allah yang hidup dalam firman
dan menjadi berkat bagi dunia
(Visi GKKK, Efesus 2: 19-20, 1 Korintus 9: 10)

Selamat Datang. . . .

Dengan sukacita kami menyambut Saudara hadir di Timika untuk bersama-sama dengan kami bertumbuh di dalam Kristus.

Jika Saudara memerlukan informasi mengenai kota Timika dan pelayanan di gereja kami, silahkan menghubungi kami:

Ev. Nining LR (08124812284, 0901-3304010)
Adolof Montolalu (0811496902)

*********************************************************************

JADWAL KEGIATAN

Kebaktian Minggu, hari Minggu, Pkl. 09.00 WIT
Sabtu Gembira, hari Sabtu, Pkl. 16.00 WIT
Kelas Katekisasi, setiap Minggu, Pkl. 17.00 WIT
PILAR Timika Indah, setiap Senin, Pkl. 16.00 WIT
PILAR Budi Utomo, setiap Rabu, Pkl. 16.00 WIT

Articles

Tanda orang yang didiami oleh Roh Kudus

In Dari meja gembala on June 23, 2008 by kalamkudustimika

Bacaan Alkitab: 1 Petrus 4:12-14; 5:6-11

Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roah Allah ada padamu. . . . (1Pet. 4:14)

Banyak orang Kristen mengira bahwa tanda seseorang memiliki Roh Kudus adalah hanya jika ia dapat berbahasa roh atau bernubuat. Tentu saja pemahaman tersebut tidaklah tepat di bawah terang perikop firman Tuhan di atas.

Firman Tuhan berkata bahwa salah satu tanda seseorang didiami Roh Kudus atau Roh kemuliaan adalah penderitaan. Penderitaan bukan karena berbuat kejahatan, melainkan menderita karena nama Kristus atau karena tindakannya memberitakan injil dan bersaksi bagi Kristus.

Penderitaan karena Kristus bisa bermacam-macam bentuknya: ada yang harus menderita disiksa badaniah, seperti orang-orang yang menerima surat Petrus ini, ada yang menderita penganiayaan, menderita diusir karena mempertahankan imannya, sampai menderita menahan rasa malu karena harus terang terang berkata-kata tentang firman Tuhan.

Justru seseorang yang tidak pernah menderita karena nama Kristus perlu bertanya-tanya dalam hatinya, “apakah Roh Kudus betul ada di dalam dirinya?”, atau ia ternyata hanyalah seorang Kristen KTP.

Kepada orang-orang yang sedang mengalami penderitaan karena nama Kristus, atau yang akan mengalaminya, firman Tuhan berkata, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Tuhan Yesus tahu bagaimana menjaga dan memelihara orang-orang Kristen yang mau menunjukkan kesetiaan dan kasihnya kepada Dia. Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya!. Amin.

Articles

Made In Italy, made in Holland

In Dari meja gembala on June 23, 2008 by kalamkudustimika

Bacaan Alkitab: 2 Korintus 13: 1-14

Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu. (ayat 11b)

Amat dan Amin, dua konco (baca: sahabat) dari sebuah kampung nun jauh di lereng perbukitan, turun ke kota. Ketika keduanya sedang duduk di taman kota, tiba-tiba seorang penjual kaca mata datang menawarkan dagangannya. Spontan Amat dan Amin mencoba kaca mata-kaca mata yang ditawarkan. “Itu made in Italy, lho, kacanya unik warna agak kehijauan” kata sang penjual kepada Amat. “Itu made in Holland, lho, bagus untuk berjemur di tepi pantai. Gak silau karena kacanya agak hitam,” kata sang penjual kepada Amin yang mencoba kaca mata lainnya. Ketika keduanya sedang asyik mencoba kaca mata, tiba-tiba lewat sebuah mobil mewah yang kemudian berhenti tepat di depan keduanya. Melihat bentuknya yang aneh alias tidak mirip dengan mobil kebanyakan, keduanya lantas terkagum-kagum.

Kata Amat, “Wah, gile, mobil hijau itu keren!”

“Iya, keren. Tapi warnanya bukan hijau. Hitam lagi warnaya. Gimana, sih matamu?!,” balas Amin.

“Heeee, hijau lagi warnanya! Matamu aja yang kabur” jawab Amat tidak mau kalah.

“Hitam! Aku bilang hitam, ya hitam!” balas Amin lagi.

“Hijau!!!,” “Hitam, hitam, hitam!,” “Hijauuuuuuuuuuuuu.”

Amat dan Amin, yang tadinya sahabat dekat, kemudian terlibat adu mulut, adu kekuatan.  Yang tadinya keduanya datang bersama-sama ke kota, kini keduanya pulang dengan mengambil jalannya masing-masing ke kampung yang sama.

Amat dan Amin tidak sehati sepikir mengenai warna benda yang dilihat karena keduanya memakai kaca mata yang warna kacanya berbeda. Satu kehiauan, satunya hitam. Keduanya tidak akan penah sepakat ketika melihat sebuah bernda berwarna, kecuali keduanya menggunakan kaca mata yang sama.

Demikian pula orang Kristen dan sesamanya hanya akan bisa sehati sepikir bila sama-sama memakai kaca mata yang sama, yaitu kaca mata made in Kingdom of God. Artinya sama-sama memikirkan, melihat, dan memutuskan segala sesuatu untuk dan demi kepentingan Allah dan Kerajaan Allah (Filipi 2:20,21). Bukan kepentingan diri sendiri.