Articles

Brenebon dan ‘Bekhorâh’

In Dari meja gembala on July 12, 2008 by kalamkudustimika

Bacaan Alkitab: Kejadian 25: 19 – 34; Ibrani 12: 1 – 17

Saya percaya bahwa hampir semua pembaca memahami satu dari dua kata di atas, yaitu Brenebon. Brenebon, menurut orang dari Sulawesi Utara dan Maluku, adalah sup kacang merah. Rasanya sangat nikmat. Ketika mengingat Brenebon, saya teringat dengan ‘Bekhorâh’. Jangan salah, ‘Bekhorâh’ bukan sejenis masakan, tetapi merupakan kata dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan sebagai hak kesulungan. Orang yang memilikinya akan menikmati berkat-berkat Allah yang kekal. Pada masa lampau di dunia Timur Tengah Kuno, menurut budaya yang berlaku, setiap anak yang lahir pertama secara otomatis akan mendapat ‘bekhorâh’, hak kesulungan. Dengan hak itu, maka sang anak mendapatkan beberapa hak istimewa, yaitu: berhak menjadi pemimpin dalam ibadah maupun keluarga, mendapatkan lebih banyak warisan dibanding saudara-sudaranya yang lain, dan—yang paling berharga—mendapatkan berkat-berkat Allah yang akan diberikan berdasarkan perjanjian Allah kepada Abraham.

Ingat ‘bekhorâh’, maka kita akan mengingat Esau. Di dalam Kejadian 25: 19-34, di sana dikisahkan mengenai Esau, yang oleh karena pertama lahir dalam keluarga Ishak, maka ia mendapat ‘bekhorâh. Sayangnya, Esau, yang sedang lapar dan haus, kemudian menjual hak-nya yang begitu berharga dan mempunyai nilai kekal hanya demi sepiring sup brenebon, yang tentu akan habis dalam sekejap. Kenikmatkan berkat-berkat rohani yang kekal yang diberikan oleh Allah ditukar dengan kenikmatan sesaat-nya Brenebon. Sungguh amat sayang!

Satu-satunya alasan mengapa Esau menjual hak-nya adalah karena ia karena memandang rendah atau meremehkan hak kesulungannya itu (Kej. 25: 34). Sikap memandang remeh hak yang diberikan Tuhan dipandang Alkitab sebagai dosa, dan orang Kristen tidak dibenarkan untuk melakukannya juga (Ibrani 12: 16, 17). Sesungguhnya setiap orang Kristen memiliki juga memiliki hak istimewa dari Allah. Hak istimewa itu adalah diangkat sebagai anak Allah, yang kemudian menjadi ahli waris kerajaan Allah dan berhak menerima janji-janji Allah dan memperoleh hidup yang kekal bersama Yesus di surga kelak (Gal. 4: 7; Yak. 2: 5; Rm. 8: 17; Yoh. 1: 12). Allah menginginkan setiap orang percaya menghargai dan menjunjung tinggi hak tersebut.

Bagaimana caranya? Alkitab mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus berlomba dengan tekun dalam perlombaan iman yang diwajibkan baginya, berusaha hidup damai, mengejar kekudusan hidup (Ibr. 12: 14), hidup hormat dan takut kepada Allah (Ibr. 12: 1, 14, 28).

Memang Tuhan mengijinkan setiap orang Kristen untuk mengalami “lapar” dan “haus” akan berbagai keinginan dan kebutuhan hidup di dalam dunia ini, sehingga ingin semuanya itu terpenuhi. Namun, jangan sampai saya dan saudara menjual iman yang begitu berharga yang telah dianugerahkan Kristus kepada kita demi kenikmatan sesaat di dunia ini. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan (Ibr. 12: 29). Ia tidak membiarkan diri-Nya dan anugerah-Nya dipermainkan. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: